Monday, October 09, 2006, posted by Beyond My Destination at Monday, October 09, 2006
Semenjak hari jumat dan sabtu kemarin, awan yang biasanya biru perlahan menjadi gelap seiring berjalannya waktu.Sejenak aku merasa nafas ini sangat sesak karena tidak bisa menghirup udara segar lagi. Mengalami hal seperti ini mengingatkan aku akan hal sama yang dulu pernah terjadi waktu aku sering pulang ke Dumai.
Dumai yang letaknya tidak jauh dari Pekanbaru selalu terjadi kebakaran hutan. Aku sering menyaksikan kabut nya awan di dermaga pelabuhan.Berhubung Papa bertugas di Dumai dan disanalah tempat pertama yang aku harus kujungi pada saat-saat libur kuliah dulu. Untuk pulang dan mengobati rasa kangen ku ke Mama dan Papa aku harus menempuh perjalanan yang amat panjang, dan kadang kala transport yang aku naiki bisa saja delayed karena kabut asap yang sangat tebal.Bayangkan saja perjalanan yang biasa aku tempuh menggunakan ferry dari terminal domestik Batam kurang lebih 7 jam untuk sampai tujuan. Untung saja kebelakangan banyak ferry baru yang memberikan fasilitas memadahi di banding beberapa tahun silam. Selebihnya jika kabut awan sangat tebal ferry tersebut akan berjalan dengan kecepatan lebih lambat. Ada alternatif lain yaitu mengunakan pesawat udara via Hang nadim (Bandar udara di batam) dan pesawat itu akan landing di Pekanbaru, darisana biasanya ada salah satu staff Papa yang akan menjemputku di bandara.
Tapi untuk menjemputku di bandara mereka harus berangkat pagi-pagi dari Dumai. Karena perjalanan memakan waktu sekitar 4 jam (Dumai- Pekanbaru). Aku lebih senang memilih naik ferry karena tidak tega melihat staff Papa yang harus berangkat pagi-pagi sekali dari Dumai belum lagi di saat kabut akibat pembakaran hutan.
Biasanya di saat kabut melanda sepanjang jalan akan terasa sangat amat panas, karena di sekeliling kita bisa menyaksikan bagaimana hutan-hutan di riau itu terbakar dengan di sengaja dan terkadang kobaran api pun masih menyala.
Di tambah lagi sekitar jalan banyak tempat penyulingan minyak yang sudah membuat cuaca amat panas sekalipun tanpa adanya pembakaran hutan.
Dimana rasa kemanusian mereka terhadap lingkungan sekitar??Kadang aku harus memendam rasa kangen ini ke orang tua ku akibat kebakaran hutan yang terjadi di Riau, karena Papa sangat khawatir jika aku tetap berangkat naik ferry di tenggah kabut awan hitam biasanya sangat rawan bahaya.
Terpaksa aku harus menunggu beberapa hari sampai keadaan normal kembali, padahal liburan sekolahku tidak lama dan aku harus segera kembali, tapi karena kebakaran hutan yang sering terjadi di Riau mengakibatkan kerugian pada banyak jiwa, tidak saja mengorbankan perasaan rindu seorang anak pada orang tuanya, tapi juga kesehatan warga sekitar yang terancam.Kalau saja pemerintah daerah atau pusat bisa mencegah hal-hal seperti ini tentunya tidak akan ada warga yang merasa di rugikan.
Tapi aku tetap cinta Indonesia.

Oye...nomer satu euy hahah :)....Iya ya... mo bagus mo jelek ACI dah... Aku Cinta Indonesia...btw...kebayang nggak sih orang orang yg tinggal di Riau...sekarang pada sakit tenggorokan :(
aduuuh ty aku juga sampai batuk2 yg parah dan gak hanya itu suaraku hilang total gara2 asap tebal selama 3 harian sekarang aja masih serak banget tp alhamdulillah sudah bisa keluar suaranya dr pada kayak kemaren hilang total..duuh
oh, tega nyaaa.. gak sanggup tinggal diantara asap :(
baru liat berita di sctv..liputan rapat presiden dan mentri ttg awan hitam itu..
awalnya mentri2 lg pd ketawa ketiwi cupika cupiki..termasuk si mentri laknat itu..
pas bpk sby dtg beliau lgs bilang "KALIAN MASIH BISA KETAWA KETAWA YA NGELIAT ASAP SEPERTI ITU!!"
iihhh..gwa gemmmeessss..knp sih lamban amat semua kerjanya..?!